LINES AND COLORS
Just some random fingerpainting on my iPad during trip home 8)

Just some random fingerpainting on my iPad during trip home 8)

JIBBERJABBER

               

LINES AND COLORS
With Ines at Ennichisai 2012 Fun time! 8D

With Ines at Ennichisai 2012 Fun time! 8D

IT'S IN THE BIBLE
“ Neng, sendirian aja. Berarti saya tidak ada? JADI SELAMA INI SAYA TIDAK EKSIS? LALU SAYA INI CONSCIOUSNESS DARI APA? NENG? NENG? TUNGGUー ”
— Me, Perverted Sentient Entity.
IT'S IN THE BIBLE
“ NENG, SENDIRIAN AJA KAYAK TUHAN YANG MAHA ESA. ”
— Me
LINES AND COLORS
Just Moses.

Just Moses.

JIBBERJABBER

L’Arc~en~Ciel World Tour 2012

Setelah dua belas tahun menanti kedatangan L’Arc~en~Ciel, akhirnya pada 2 Mei 2012, ‘pelangi’ juga menghampiri kota Jakarta dalam perhelatan World Tour 2012. Beberapa bulan sebelumnya, gue dan beberapa fellow Cielers (yang tergabung dalam group Concert Vigilontes) sempat mati-matian untuk mendapatkan tiket VIP dan premium yang habis dalam hitungan menit. Saat itu, yang gue pikirin cuma “Pokoknya harus nonton langsung!” tanpa ekspetasi yang berlebih. Ya, setengah dari umur gue dihabiskan bersama lagu-lagu L’Arc~en~Ciel. Dari menyanyikan Blurry Eyes di atas becak, sampai mengumpulkan tanda tangan supaya mereka rela datang. Rasanya bak murtad kalau sampai melewatkan live mereka, apa pun alasannya. Tapi siapa yang mengira, malam itu menjadi titik kulminasi sebuah apresiasi dan merubah persepsi gue tentang konser dan artist itu sendiri.

THE CONCERT

Seperti yang udah gue duga, mengantri LarukuJKT merupakan perjuangan yang lumayan berat. Total 6 jam gue dan teman-teman berdiri di tengah lautan jemaat Laruku yang nggak sabar menunggu gate dibuka. Ada rasa haru melihat antusiasme seluruh fans yang berpanas-panasan dan semangat mengacungkan tangan membentuk huruf L setiap kru Laruku menyorot dengan kamera. Di situ kami saling berbagi makanan dan minuman agar tetap fit hingga ke baris depan. Begitu lulus uji pemeriksaan pertama, kami langsung berlari menuju antrian kedua. Sebagian ke premium, gue, Ines, Aris, Bintang, Shani ke bagian VIP. Mendekati gate VIP, gue bisa lihat sekilas bentuk stage Laruku dan nggak bisa menahan luapan kegembiraan. “This is it!” pikir gue.

Memasuki arena konser, hal pertama yang membuat gue terpana adalah set panggung yang sangat bagus dan matang untuk hitungan pertunjukan musik di Jakarta. Apalagi perlu diingat, meski Laruku adalah epitome band mainstream di Jepang, gaungnya tidak sekencang Dream Theater, Morrissey, atau Linkin Park. Gue nggak mengira Laruku tetap kekeuh untuk menggunakan standar panggung mereka di negara seperti Indonesia yang notabene less sophisticated dibanding Bangkok atau Hong Kong. Sesaat sebelum konser dimulai, beberapa kru Laruku terlihat mondar-mandir di atas panggung yang disambut dengan riuh tepuk tangan dan tawa penonton (tak ada Laruku, Larukru pun jadi 8’))). Akhirnya setelah berjam-jam trolling kru dan menunggu, backdrop mendadak memutarkan video opening konser dan Laruku muncul memainkan Ibara no Namida. Sontak gue nangis, dan penonton lain menjerit gak karuan. Hyde, Tetsu, Ken, Yuki, mereka benar-benar di sana. 12 tahun penantian dan sekarang mereka ada di depan mata. Gila!

Setelah membawakan Ibara no Namida, Chase, dan Good Luck My Way dengan apik, Hyde menyapa penonton dengan bahasa Indonesia, “Halo, Jakarta. Kami L’Arc en Ciel. Kalian senang bertemu aku? Aku? Aku juga. Jakarta, selamat menikmati.” (sejurus kemudian beberapa fanboy & fangirl terlihat meninggalkan Tuhan masing-masing dan membangun altar di saliva sendiri). Usai membangkitkan birahi, Laruku kembali menggebrak Lapangan D Senayan dengan Honey, Drink It Down, dan Revelation. Sepanjang lagu, seluruh penonton ikut bernyanyi, bahkan spontan berteriak “HEY! HEY!” di sela-sela hentakan drum Revelation. Permainan drum Yuki malam itu berhasil menghentak semangat dan membuatnya patut disembah sebagai berhala, sementara Hyde sendiri terlihat senang dengan reaksi penonton. Baru 6 lagu, gue udah lemes karena terlalu semangat. Tapi mengetahui ritme penontonnya, Laruku segera membuai dengan lantunan Hitomi no Jyuunin. Saat itu, lagi-lagi gue nangis. Falsetto Hyde dan lantunan gitar Ken yang sangat jernih membungkus Hitomi no Jyuunin dengan menyentuh hati.

Usai Hitomi no Jyuunin, kini giliran XXX dimainkan. Para penonton (termasuk gue) terlihat mengacungkan glowsticks dan membentuk huruf X. Menyusul kemudian lagu Fate yang menyayat lalu Forbidden Lover di mana Hyde tampak jelas menitikkan air matASDASDASDASDASDASDASーMaaf, terlalu emosional. Uhm. Sayangnya di lagu ini gue sempet harus jongkok karena tekanan darah rendah. Setelah larut dalam lautan durjana, Ken memainkan gitar solo blues yang incredibly clean(!) dan disambung dengan My Heart Draws A Dream. Di lagu ini, ada satu momen di mana Laruku membiarkan penonton meneriakkan “Yume o egaku yo” (everyone draws a dream) lebih lama dari konser biasanya, dengan backdrop panggung menampilkan tangan-tangan penonton yang mengacung ke udara, dan disambut Hyde dengan “OUR hearts draw a dream”. Pemandangan ajaib ini seolah-olah mengatakan bahwa mimpi ribuan Cielers selama belasan tahun malam itu menjadi lukisan nyata. Gue merinding hebat, bahkan nulis ini bikin gue berkaca-kaca.

Kelar bulu kuduk berdiri, Ken menghibur penonton dengan menceritakan kisahnya di Kota Tua dalam Bahasa Indonesia yang ditimpali Yuki dengan gebukan badumtss. Gak cuma itu, Ken juga membawakan wayang, gamelan, ganjelan pintu, dan suling (yang akhirnya dibanting gara-gara si abang gak bisa mainin 8))) untuk Hyde dan disambut penonton dengan gelak tawa. Terlihat jelas bahwa Laruku dan management begitu total hingga detail yang sebenarnya tak terlalu penting seperti ini pun mereka persiapkan untuk menghibur Cielers Indonesia. Kudos!

Setelah sesi Ludruk~en~Ciel, Seventh Heaven yang catchy dimainkan dan membuat seluruh penonton goyang. Lonjakan serotonin makin meningkat dengan dibawakannya Driver’s High di mana gue & penonton lain berteriak “OI! OI!” di awal lagu dan Hyde terus meneriakkan “Jakarta!” berkali-kali hingga akhirnya melemparkan mic ke penonton untuk waktu yang cukup lama, hal yang lagi-lagi jarang terjadi di konser Laruku lainnya. Gue bahkan bisa jelas melihat gesture Hyde yang kegirangan waktu semua melompat & bernyanyi kencang. Sepertinya Laruku amazed melihat Cielers Indonesia yang chaotic dan semangat sing along penuh di setiap lagu.

Penonton semakin riuh ketika Laruku lanjut membawakan Stay Away dan Ready Steady Go, dua lagu yang berhasil mengeringkan tenggorokan penonton dan membuat semua orang melompat semangat. Di RSG sendiri, Yuki melakukan solo drum dan spontan penonton melakukan hal yang jarang dilakukan di konser Laruku: Berteriak “YUKI! YUKI!” di sela-sela gebukan drum! :D Setelah itu, keempat member Laruku beranjak ke backstage. Gue bersama penonton lainnya berkali-kali menyanyikan chorus Anata hingga akhirnya intro orchestral membahana dan Laruku kembali ke stage membawakan Anata dengan sempurna. Rintik-rintik hujan ikut membuat suasana menjadi semakin mengharukan, gak ada satu pun orang yang beranjak dari tempatnya. Lagi-lagi, gue nangis. Singing along Anata di konser adalah mimpi gue sejak lama, dan saat itu Laruku benar-benar mendengarkan langsung chants gue & Cielers lainnya yang bermimpi sama. Surreal.

Yang paling tak terduga akhirnya datang. Usai membawakan Anata, hentakan drum intro 4th Avenue Cafe berdentum dan seluruh penonton histeris. 4th Avenue Cafe adalah salah satu lagu yang JARANG dimainkan dan banyak dikenal di Indonesia karena dijadikan OP song Samurai X (walau hanya bertahan sebentar karena drug charges Sakura & ini mengingatkan masa-masa kelam Laruku dan lagu Bravery). Sepanjang lagu semua orang bernyanyi, melompat, dan melimpahkan seluruh energi meneriakkan “SARAWAREEETEEEE!”. Untuk pertama kalinya juga, Hyde membiarkan penonton menyanyikan 1 refrain terakhir secara penuh, hanya di LarukuJKT. Tak berhenti sampai di situ, Laruku kembali mengajak penonton untuk bergoyang dengan membawakan Link. Di tengah lagu, semua member berhenti bermain sejenak dan membiarkan Tetsu melakukan rukun Laruku yang ke-4: Lempar pisang! Tetsu membuka ritual dengan menyapa penonton “Selamat malam, gue Suju dari Korea.” dan menyelipkan joke pervert ambigu dalam Bahasa Indonesia. Priceless.

Tak mau kalah dengan Tetsu, Hyde juga unjuk kebolehannya dalam berbicara Bahasa Indonesia sebelum membawakan lagu Niji, “Kamu senang? Kamu senang? Aku juga. Kami datang ke Indonesia lagi. Terima kasih. Ini lagu terakhir.” …seluruh penonton saat itu bersorak dan ikut bernyanyi bersama sepanjang lagu Niji yang sendu. Menjelang akhir lagu, semua penonton khusyuk menyimpan detik-detik terakhir konser Laruku. Konser ditutup dengan penuh haru, penonton berteriak “ARIGATOU!” yang dibalas Hyde dengan “Terima kasih” dan member lainnya yang tersenyum dihiasi feathers yang berterbangan. Tak lama setelah itu, beberapa penonton meniup peluit lalu gue dan penonton lainnya menyanyikan lagu Bless untuk Laruku. Hyde yang mendengar chant penonton tersebut, menunjukkan ekspresi haru. Mengingat ini, gue gak bisa menahan tangis dan bersyukur bisa turut membahagiakan Laruku yang selama belasan tahun ini menghibur gue dengan karya-karya hebatnya.

Konser Laruku malam itu menjadi momen terbaik yang pernah gue alami dan gak akan pernah gue lupakan. Semuanya terlalu sempurna. Setiap nada, suara, sorak sorai penonton, sinar kegembiraan di mata setiap member band, kekeluargaan Cielers, dedikasi tanpa henti. Semuanya 8)

L’ARC~EN~CIEL: TRUE PERFORMERS

Kalau menelusuri hashtag #LarukuJKT di Twitter, bisa dibilang konser Laruku di Jakarta memberikan kesan yang sangat mendalam bagi semua orang. Hal itu tak lain dan tak bukan adalah karena aksi dan usaha total mereka untuk membuat seluruh fans yang menunggu selama belasan tahun bahagia. Meski gue yakin betul Laruku tau fans di sini tidak banyak dan merupakan penikmat barang bajakan, Laruku dan kru tetap memberikan full treatment dari set panggung yang keren, permainan yang maksimal, hingga berlatih (joke) Bahasa Indonesia, dan memberikan service khas masing-masing member. Tetsu dengan pisang dan joke ambigunya, Ken dengan kecabulannya, Yukki yang berkomunikasi dengan drum-nya, Hyde yang feminine dan sensual (dan bahkan menangis untuk fans!), semua lengkap.

Malam itu, Laruku menjadikan fans sebagai raja, bukan sebaliknya. Gue udah berkali-kali melihat konser artist luar dan baru kali ini melihat sebuah band yang memberikan effort yang SANGAT banyak untuk bisa menghibur dan berkomunikasi dengan fans di negara yang bahkan sebenarnya hanya memberikan kontribusi sangat minim bagi karir mereka. Setiap member Laruku juga terlihat begitu menikmati permainan sepanjang konser tanpa dipaksakan. Di sini. Di negara yang…yah, seadanya ini, Laruku datang dan menghargai fansnya sepenuh hati. Hasilnya, seluruh penonton malam itu mengerahkan antusiasmenya dan semakin jatuh cinta. Ya, Laruku telah memberikan standar baru bagaimana performer sejati seharusnya berlaku.

Terima kasih, L’Arc~en~Ciel. Mencintai kalian adalah keputusan yang nggak akan pernah gue sesali. Sampai berjumpa lagi di konser mendatang! :)

LINES AND COLORS
1st drawing on iPad

1st drawing on iPad

JIBBERJABBER

“Care for some Wahabbi with your sushi?”

                     

JIBBERJABBER

#INDoodling

So, less than a month ago I got a new job and then I stopped drawing after a while. Long story short-ish, I finally managed to draw again. Thanks to @INDoodling 8)

          

Vanessa // Pencil 2B

Inamorata // Pencil 2B